Bung Bernhard, lahir di Bukittinggi Sumatera Barat pada 3 Maret 1970 sebagai anak kedua dari 6 orang bersaudara. Lahir dari keluarga Kristen yang taat dan aktivis Gereja, berasal dari suku Tapanuli, memiliki bapak seorang Tentara marga Simanjuntak dan ibu boru Manurung. Sebagian besar masa kecilnya hingga SLTA, tinggal dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat Muslim di daerah Sumatera Barat (Bukittinggi, Payakumbuh, Padang) dan Riau (Pekanbaru). Sekalipun berbeda dengan masyarakat disekitar baik dari suku maupun agama, sudah terbiasa bagi Bung Bernhard untuk tetap bergaul dan berteman dengan masyarakat sekelilingnya.
Toleransi beragama dan perbedaan ditengah-tengah masyarakat adalah suatu kenyataan yang menjadi nilai yang dipegang teguh oleh keluarga ini. Prinsip ”Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” adalah sikap hidup yang tercermin dari keluarga Simanjuntak ini. Bahkan sekalipun adalah keluarga Batak sering sekali bahasa pengantar sehari-harinya adalah bahasa Minang (Padang).
Tahun 1989, Bung Bernhard melanjutkan studinya di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Medan, yang juga merupakan kesempatan pertamanya untuk lebih dekat mengenal teman-teman baru dari daerah asal orangtuanya. Terbiasa berteman banyak dan lahir dari keluarga aktivis gereja, Bung Bernhard mengikuti ajakan seniornya untuk aktif di organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen di Kampusnya. Sejak tahun 1990, Bung Bernhard bergabung organisasi Pelayanan Mahasiswa di Fakultas Teknik USU Medan, dan mulai menjadi pengurus sejak tahun 1991.
Selesai kuliah, Bung Bernhard sempat bergabung beberapa bulan Tahun 1997 dengan PT. Trakindo Utama Pekanbaru. namun keluar dan tahun 1998 bergabung dengan PT. Coca Cola Amatil Indonesia Padang dan ditempatkan di Batam. Saat krisis multi dimensi berat mulai mempengaruhi performance dari perusahaan, Bung Bernhard menerima tawaran PHK pada akhir tahun 1998, tepat setelah 11 Bulan bergabung dengan PT. Coca-cola Amatil Indonesia. Akhirnya Batam jualah yang mengenalkannya dengan dunia Manufakturing setelah bergabung dengan sebuah PMA Jepang dengan management Singapura, PT. Panasonic Electronic Devices Batam (dulu PT. Matsushita Electronic Component Batam- Sincom) pada Maret tahun 1999.
Menikah tanggal 14 Januari 2000 dengan aktivis Pelayanan Mahasiswa Kristen dari Universitas Riau-Pekanbaru, Rentawati Sinaga, SIP , kini keluarga Bung Bernhard yang dilingkungannya di Perumahan Masyeba Permai Tiban dikenal dengan nama Pak Keke telah dikaruniai dua orang puteri Eunike Christine K. Simanjuntak (7,8 th) dan Rossie Misi Emanuella Simanjuntak (8 bln)
Aktifitas Serikat Pekerja
Didorong oleh keberhasilan SPSI PUK Matsushita Electronic Component Batam tahun 2001 yang berhasil memperjuangkan beberapa hak dasar Pekerja seperti Cuti Haid bagi pekerja wanita dan juga penghitungan lembur yang lebih baik, sekalipun akhirnya organisasi beku karena kurangnya solidaritas pekerja dan pengurus yang mengundurkan diri, akhir tahun 2004 Bung Bernhard dan beberapa senior lain, membidani terbentuknya Serikat Pekerja di PT. Matsushita Electronic Component Batam (yang sejak April 2005 berubah menjadi PT. Panasonic Electronic Devices Batam) yang disepakati berafiliasi dengan FSPMI dimana dalam pembentukan kepengurusan Bung Bernhard dipilih untuk menjadi Sekretaris PUK periode 2004 – 2008.
Menyadari pentingnya kesetaraan pekerja dan pengusaha dalam dunia usaha, Bung Bernhard tetap bertahan menggerakkan FSPMI PUK PT. PED Batam dan membuat upaya terobosan pencerahan tentang pemahaman pentingnya berserikat melalui Bubursore (Buletin tingkat PUK) yang diasuhnya bahkan dengan mendorong penyebaran Tabloid Solidaritas Pekerja (terbitan FSPMI Batam) dimana dia turut sebagai dewan Redaksi. Sekalipun berjalan tidak terlalu mulus karena rendahnya kesadaran berserikat diantara pekerja, juga rasa takut kepada managemen selain terlalu besarnya anggota yang berstatus tenaga kerja kontrak disamping tekanan dan pembatasan-pembatasan gerakan oleh Managemen PT. PED Batam, PUK PT. PED Batam dapat berjalan dan melaksanakan Musnik I Bulan Februari 2008 dan Bung Bernhard kembali dipercayakan men jadi Sekretaris PUK untuk periode 1998 – 2011.
Aktifitas Gereja dan Lingkungan Masyarakat
Terbiasa dengan aktifitas Gereja dan Persekutuan Kristen, sejak datang ke Batam tahun 1998 Bung Bernhard bergabung dengan Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB) jemaat Zebulon Sekupang sampai sekarang. Bung Bernhard mengambil bagian aktif dalam pelayanan mengajar anak-anak pada setiap Minggu pagi. Selain itu menjabat sebagai Wakil Ketua Gerakan Pemuda di GPIB Jemaat Zebulon Sekupang sampai tahun 1999. Sempat dipilih menjadi Majelis Jemaat tahun 2002, mengundurkan diri tahun 2005 karena keinginannya lebih berbuat kepada Pekerja. Sekarang di Gereja Bung Bernhard berada di Komisi Litbang.
Terbentuknya masyarakat di Perumahan Masyeba sebagai perumahan baru tahun 2001, Bung Bernhard sempat menjadi Sekretaris RT 2 dan akhirnya menjadi Bendahara RT 3 di Perumahan Masyeba sampai tahun 2005.
Tanggal 27 Juli 2002. Keluarga Bung Bernhard berinisiatif mengundang masyarakat Kristen Perumahan Masyeba Permai Tiban Batam untuk mendirikan Organisasi sendiri yang akhirnya melahirkan Organisasi Serikat Tolong Menolong Maranatha Perumahan Masyeba Permai Tiban Batam. Tidak berhenti disitu, sembilan bulan kemudian 27 April 2003, dengan inisiatif sendiri keluarga Bung Bernhard membentuk Pos Pelayanan Anak Kristiani di Perumahan Masyeba Permai Tiban dengan memberikan rumahnya sebagai tempat bagi pelayanan anak setiap hari Minggu pagi bahkan turun tangan menjadi guru layan bagi anak-anak Kristiani dengan harapan dapat melahirkan generasi yang baik, taat kepada Khaliknya dan menjadi teladan dalam 15 tahun ke depan.
Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya anak-anak yang harus dilayani, maka Bung Bernhard mengajak masyarakat Kristen setempat membangun Gedung sendiri tempat pelayanan anak Kristiani yang juga dapat dipergunakan masyarakat sebagai Balai pertemuan. Demikianlah Bung Bernhard dikenal dengan nama ”Pak Guru” ditengah-tengah masyarakat Kristen di lingkungannya.
Aktifitas Politik
Kesadaran akan pentingnya peran serikat pekerja dalam mencapai kesejahteraan pekerja dan diilhami oleh keberhasilan Jasmetal dalam Pemilihan Walikota Batam tahun 2005 yang membuktikan bahwa pekerja mempunyai potensi yang signifikan dalam menentukan kepemimpinan Batam, mendorong para aktivis pekerja untuk melihat kesempatan yang lebih baik lagi dalam berjuang demi kesejahteraan pekerja. Tahun 2006, oleh Bung Nurhamli seorang pentolan FSPMI, Bung Bernhard didorong untuk mencoba ambil bagian dalam politik demi membuka ruang seluas-luasnya bagi kesempatan perjuangan pekerja. Maka dengan pengalaman yang minim, setelah berkonsultasi dengan adiknya yang juga adalah salah satu Anggota DPRD II kota Pekanbaru, tahun 2007 Bung Bernhard bergabung menjadi pengurus di Dewan Pimpinan Wilayah Partai Damai Sejahtera (DPW PDS) Propinsi Kepulauan Riau, sebagai Wakil Sekretaris.
Maret 2008, Bung Bernhard berkesempatan untuk mengikuti Pelatihan Politik PDS di Medan. Juli 2008 Bung Bernhard ditugaskan menjadi Caretaker Dewan Pimpinan Cabang Partai Damai Sejahtera (DPC PDS) Kota Batam dalam jabatan Sekretaris untuk melaksanakan Musyawarah Cabang Luar Biasa DPC PDS Kota Batam. Bung Bernhard mengajukan pencalonannya sebagai calon Legislatif Partai Damai Sejahtera untuk DPRD I Tingkat Propinsi sebagaimana dorongan para Pekerja, dan sejauh ini dapat sampai pada Daftar Calon Tetap yang diputuskan oleh KPU Daerah Propinsi Kepulauan Riau.
Visi dan Misi
Menjadi Visi, Mimpi dan Harap masyarakat Indonesia akan tumbuhnya rasa kebangsaan yang kuat dan tampilnya suatu bangsa maju yang cerdas, berbudaya, aman, damai dan sejahtera, maka dibutuhkan pemimpin yang berani, jujur, cerdas, saleh dan mau peduli kepada kepentingan rakyat banyak dan bangsanya.
Bung Bernhard berpendapat : Hal ini dapat terwujud dengan adanya seleksi alami didalam alam demokrasi di seluruh elemen masyarakat Indonesia, sehingga dengan semakin terbukanya kesempatan bagi seluruh elemen bangsa untuk berpartisipasi dalam memajukan negeri ini, maka semakin besarlah kesempatan bangsa ini untuk mendapatkan semua harap dan impiannya”. Namun komunitas pekerja adalah salah satu elemen masyarakat yang masih mendapatkan kesempatan kecil saja dalam berpartisipasi menuju segala harapan bersama ini.
Hal ini sering sekali disebabkan karena dengan kemampuan finansial yang hanya berada di tingkat pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari saja walaupun mereka telah memcurahkan waktu yang sangat banyak untuk mendapatkannya. Sehingga wajar saja kelompok pekerja menjadi kelompok yang merasa sangat terancam kelanjutan hidupnya jika mencoba memberikan waktu bagi hal-hal lain yang nota bene ”menyimpan potensi resiko bagi kelanjutan hidupnya dan keluarganya”.
Oleh karena perlu dilakukan perjuangan yang lebih berani, kuat, konsisten dan terarah untuk menjadikan komunitas pekerja mendapatkan kesempatan dalam menggapai mimpi dan harap bangsanya . Karena sebagai elemen masyarakat yang memiliki jumlah yang besar pekerja mempunyai potensi yang sangat besar pula. Pekerja adalah potensi pajak yang besar karena pekerjaa adalah “Pembayar Pajak yang Taat”. Pekerja juga adalah kelompok yang berpotensi mampu bertahan karena dalam persentasenya memiliki keterampilan dan pekerja cenderung bukan kelompok yang mudah menyerah karena telah terbiasa mengalami tantangan kerja yang berat.
Kelompok pekerja juga berpotensi merusak jika sebagian besarnya ”Miskin dan Bodoh” berpotensi melahirkan generasi pecundang, jika anak-anaknya tidak mendapatkan kesempatan belajar yang layak. Namun disisi lain, Kelompok Pekerja berpotensi membesarkan negeri ini jika sebagian besarnya pintar dan sejahtera. Pekerja akan melahirkah generasi yang akan membanggakan bagi negeri ini jika anak-anaknya dapat kesempatan bersekolah dengan layak.
Itu sebabnya gerakan dan perjuangan untuk menjadikan pekerja sejahtera adalah suatu langkah yang penting dalam menyelamatkan masa depan negeri kita. Fakta membuktikan bahwa pekerjaan dan tindakan yang biasa tidak akan menghasilkan hal-hal yang luarbiasa, namun hal Luar biasa sering sekali lahir dari pemikiran, tekad, keberanian dan tindakan yang tidak biasa. Itu sebabnya maka gerakan dan perjuangan demi kesejahteraan pekerja yang merupakan suatu hal yang besar ini tidak dapat dilakukan dengan sekadarnya saja. Gerakan perjuangan ini harus mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya sekadar mengikuti apa yang biasa dilakukan oleh orang lainnya, namun sering sekali harus berani melawan terhadap hal-hal yang sudah biasa.”
Demikianlah Bung Bernhard dengan Mottonya : HANYA IKAN MATI YANG IKUT ARUS, mempunyai visi khusus bagi kelompok pekerja yaitu : ” Terwujudnya kesejahteraan pekerja dan keluarganya untuk mendapatkan kelayakan hidup sebagai anak bangsa dan kesempatan yang sama dengan kelompok masyarakat lain untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya demi tercapainya keadilan dan kemakmuran bersama di negeri ini”
Propinsi Kepulauan Riau, khususnya Batam yang dicanangkan menjadi suatu daerah industri yang mampu menyokong negara dalam perekonomiannya, dan bukan hanya menjadi jawaban sementara bagi pemerintah dengan menjadikannya sebagai ”suatu daerah penampungan para pengangguran” dengan dengan hitung-hitungan ”Pokoknya kerja’ saja, namun terlebih lagi diharapkan mampu tampil menjadi ”Halaman Depan Indonesia dan bukan Halaman Belakang Singapura” (sebagaimana ungkapan Ridwan Monoarfa seorang tokoh Serikat Pekerja Nasional). Dengan Pekerja yang sejahtera, Batam akan mampu menjadi Motor Raksasa Ekonomi yang akan mewujudkan mimpi dan harapan bangsa ini yaitu suatu bangsa dengan rasa kebangsaan yang kuat dan tampil sebagai suatu bangsa maju yang cerdas, berbudaya, aman, damai dan sejahtera. Suatu bangsa yang menarik minat para saudagar dan kapitalis untuk menanamkan modalnya juga.
Dengan itu maka segala hal yang mengarah untuk memajukan kelompok pekerja perlu menjadi suatu misi khusus yang menjadi prioritas penting yang akan dilakukannya antara lain :
A. Penegakan Hukum dan Perlindungan Hak-hak pekerja
- Selalu menyuarakan dukungan terhadap semua gerakan pembelaan terhadap hak-hak pekerja, dan berada di garis depan dalam perjuangan hak-hak pekerja.
- Memperjuangkan Mata Pelajaran tentang ketenagakerjaan sebagai muatan lokal di seluruh SLTA dan Perguruan Tinggi di provinsi Kepulauan Riau.
- Menolak segala bentuk “Perbudakan Modern” lewat Sistem Outsourcing jasa tenaga kerja yang menjadikan pekerja sebagai komoditi dalam dunia produksi.
- Mendesak pemerintah dalam mengefektifkan pengawasan ketenagakerjaan .Memberikan pengawasan melekat dalam pelaksanaan aturan dan peraturan ketenagakerjaan di Prov. Kepulauan Riau agar pekerja dapat bebas dari rasa takut dalam menjalankan tugas dan profesinya maupun aktivitas kesehariannya.
- Mendukung segala bentuk upaya pemberantasan Korupsi di bumi Indonesia.Memberikan pengawasan melekat kepada pelaksana-pelaksana tugas birokrasi dalam memerangi korupsi, pungli yang membebani dunia usaha dan biaya produksi yang akhirnya memberikan tekanan bagi pekerja untuk mendapatkan upah yang layak.
B. Pendidikan Pekerja dan Keluarganya
- Memperjuangkan upaya-upaya peningkatan harkat pekerja dengan mendesak pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan baik bagi calon tenaga kerja maupun pekerja baik untuk meningkatkan keterampilannya di bidang formal, pengetahuan, maupun dalam bidang-bidang tambahan (Non formal).
- Memperjuangkan upaya-upaya agar anak-anak pekerja dapat bebas dari biaya pendidikan sampai dengan tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di sekolah-sekolah pemerintah serta mendesak ditambahnya anggaran untuk pendidikan khususnya pembangunan sekolah-sekolah di daerah komunitas pekerja, sehingga anak-anak pekerja dapat bersekolah dengan mudah terjangkau jarak dan waktu.
- Menghimbau Pemerintah mengupayakan ditumbuhkannya program-program beasiswa bagi anak-anak pekerja dengan mendesak CSR untuk diarahkan bagi pendidikan anak-anak pekerja serta mendesak Jamsostek untuk menyalurkan lebih besar lagi dana Beasiswa bagi anak-anak pekerja.
C. Kesempatan Kerja
- Mendesak pemerintah untuk hanya mengundang pemodal-pemodal yang sehat baik dari sisi bisnis maupun financial dan menolak pemodal-pemodal yang hanya sanggup membayar upah sekadar di Garis Kebutuhan Hidup Layak saja.
- Mendorong pemerintah untuk mengundang investor yang bergerak dalam usaha dan teknologi hasil bumi dan laut dan bidang-bidang yang dapat segera dilakukan sendiri oleh Pekerja Indonesia.
- Mendorong upaya-upaya kerjasama dengan daerah-daerah lain yang memungkinkan penyerapan tenaga kerja Terampil yang telah mampu bekerja dengan standard kerja Baku (ISO, QS, dll), agar dapat berkarya di daerah lain dalam rangka pemerataan pembangunan Negara dan peningkatan daya tawar pekerja di Prov. Kepulauan Riau.
D. Kesejahteraan Pekerja
- Berjuang dan mempengaruhi pemerintah dan semua wakil rakyat dalam upaya perjuangan pekerja untuk mendapatkan hidup layak dalam ukuran manusia beradab dan berbudaya, tidak hanya cukup sandang dan pangan, tetapi berdasarkan suatu kriteria kehidupan manusia yang layak meliputi sandang, pangan, papan, biaya kesehatan, biaya pendidikan, biaya rekreasi, tabungan untuk perumahan di hari tua dan tabungan untuk biaya di hari tua.
- Mendorong Jamsostek untuk mengembangkan program-program yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan pekerja dan peningkatan security life kelompok pekerja.
- Mendorong pemerintah mencari upaya-upaya agar pekerja mendapatkan upah yang layak dan masa depan yang lebih terjamin.
- Berjuang dan mendesak pemerintah benar-benar memfasilitasi pembentukan koperasi-koperasi pekerja dan memberikan kesempatan kepada koperasi-koperasi pekerja tumbuh menjadi profesional dan dapat bersaing secara sehat di dunia usaha maupun dalam proyek-proyek pemerintah guna meningkatkan kesejahteraan pekerja dari sisi non upah.
- Berjuang agar semua kelompok pekerja mendapat jaminan pemeliharaan kesehatan untuk dirinya sendiri dan keluarga yang masih menjadi tanggung-jawabnya.
Adalah suatu kebohongan besar jika semua mimpi dan harapan itu akan terwujud jika tidak ada kerja keras dan tekad yang tumbuh dan keluar dari kejernihan hati. Dan tidak akan ada suatu hasil yang baik dicapai tanpa tekad dan kemauan. Oleh sebab itu, Bung Bernhard mengharapkan seluruh pekerja belajar melihat bahwa kita pekerja tidak boleh berdiam diri saja karena masa depannya adalah masa depan negara ini juga. Adil, makmur, damai dan sejahtera membutuhkan kerja keras, kemauan dan doa untuk mencapainya. Bravo Pekerja… tatap masa depan kita..
Yeremia 29: 7
” Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”
DAMAI NEGERIKU, SEJAHTERA BANGSAKU
M. Bernhard Simanjuntak, ST
CALEG NO URUT 4 DPRD I PROPINSI KEPULAUAN RIAU
PARTAI DAMAI SEJAHTERA
Popularity: 9% [?]



January 23rd, 2009 at 4:04 am
buruh cerdas, skill tinggi dan solidaritas yg kuat merupakan modal dasar para aktifis fspmi, maka adalah wajar jika perjuangannya terus dikembang luaskan bukan hanya dalam lingkup pekerja saja. bangsa ini cukup kaya dan mampu untuk mensejahterakan rakyatnya jika dikelola dengan baik.
terus maju dan berjuang bung, kalah menang tidak menjadi masalah.
in solidarity,
sri
February 5th, 2009 at 2:19 pm
6000 buruh sincom memilihmu
March 5th, 2009 at 9:52 pm
maju terus bro
suarakan kepentingan kami, pekerja
jangan pernah menyerah
go for bernhard
March 6th, 2009 at 2:29 am
Never crack under pressure, perjuangan butuh pengorbanan….semoga apa yg kita cita-citakan bersama dapat terwujud untuk kebaikan dan kesejahteraan buruh/pekerja….HIDUP BURUH, HIDUP FSPMI, HIDUP JASMETAL
March 14th, 2009 at 1:57 pm
NIKMATI KOPINYA APAPUN GELASNYA
JERIT BURUH DALAM KESEDIHAN
MENANGGUNG BEBAN TA TERPERI
JADIKAN TANGIS MEREKA YANG DIHINA
SEBAGAI LAJU NADI DARAHMU
LAWAN KESEWENANGAN
BERANTAS PEMBODOHAN POLITIK
SEBARKAN BERITA PERLAWANAN INI
HINGGA ANAK CUCU KITA TERSENYUM BANGGA
KATAKAN BURUH BUKAN BUDAK
KATAKAN BURUH BUKAN ALAT
BURUH ADALAH MARTABAT NEGARA
BURUH ADALAH PEJUANG NEGARA
SATUKAN TEKAD DAN NIAT
KITA KUASAI PARLEMEN DEMI KEBENARAN
WALAU ITU PAHIT
WALAU ITU PERIH
PUJANGGA TANPA ONGIS NADE
December 3rd, 2009 at 4:15 pm
Im searching for sites related to this. Glad I found you. Thanks